TPaCK, UPAYA PENINGKATAN LITERASI DIGITAL SISWA

 

PENDEKATAN TPaCK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN 
LITERASI DIGITAL SISWA
PADA MATERI INTERAKSI ANTAR KOMPONEN EKOSISTEM KELAS VII SMP KESATRIAN 1 SEMARANG
WIBOWO, S.Pd., M.Si.


BAB I
PENDAHULUAN
 

1.1  Latar Belakang

Berdasarkan rapor pendidikan 2024 Kemampuan literasi yaitu;

Persentase siswa berdasarkan kemampuan dalam memahami, menggunakan, merefleksi, dan mengevaluasi beragam jenis teks (teks informasional dan teks fiksi), mengalami penurunan 0,89%. Sedangkan Kompetensi mengakses dan menemukan isi teks (L1)
Nilai rerata siswa pada kemampuan menemukan, mengidentifikasi, dan mendeskripsikan suatu ide atau informasi eksplisit dalam teks informasional (non-fiksi) dan sastra turun 0,56%

Kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan harus memperhatikan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Prinsip kegiatan pembelajaran yang diamanatkan adalah: 

1) Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian siswa saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan siswa yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan;

2) Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat;

3) Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter siswa secara holistik;

4) Pembelajaran yang relevan  yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya siswa, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra; dan

5) Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

Prinsip-prinsip di atas hendaknya diterapkan secara baik dalam kegiatan belajar mengajar di satuan pendidikan.

(https://ditsmp.kemdikbud.go.id/lima-prinsip-pembelajaran-dalam-kurikulum-merdeka/)

Mengacu hal tersebut, maka pembelajaran harus dirancang untuk mengembangkan kemampuan dan karakter siswa secara holistik serta bermakna dan menyenangkan. Untuk itu guru perlu membuat stategi pembelajaran yang memungkinkan materi pembelajaran dapat tersampaikan secara tepat. Tentunya hal ini dibutuhkan sebuah metode yang dikembangkan oleh seorang guru, yang disesuaikan dengan karakter siswa serta kekhasan dari materi yang akan disampaikan.

Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajaan dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan,pengadilan diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.

Drs.Syahril (2017:2) Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, karena dimanapun dan kapanpun di dunia ini terdapat pendidikan. Hasbullah (2017:1) Pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Bisri Mustofa (2015:7) pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses sebagai metode-metode tertentu sehingga orang memeroleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam undang-undang Republik Indonesia tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (1) No.2 Tahun 2003 SISMPIKNAS menyatakn bahwa :

Tujuan Pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,sehat jasmani dan rohani, mempunyai keperibadian dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Didalam naskah akademik tentang pembelajaran mendalam disebutkan bahwa Kerangka pembelajaran merupakan panduan sistematis untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung pembelajaran. Fokus utama kerangka ini adalah mendorong pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan kontekstual melalui praktik, lingkungan, dan kemitraan yang terencana. Penerapan PM tidak hanya bergantung pada pendekatan kognitif, tetapi juga melibatkan empat komponen penting yang saling mendukung dan membentuk pengalaman belajar yang holistik bagi siswa. Keempat komponen ini adalah praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital, dan kemitraan pembelajaran.

(https://bpmpkaltara.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2025/02/nasmik-deep-learning-2025-full_10-feb.pdf)

Secara umum pendidikan merencanakan segala upaya untuk mempengaruhi orang lain baik individu maupun kelompok sehingga dapat melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Unsur-unsur pendidikan yang terlibat dalam proses pendidikan yaitu siswa, guru, sekolah, kurikulum, materi, dan model. Siswa merupakan orang yang memiliki potensi dasar yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun secara psikis. Tujuan pendidikan pada dasarnya menciptakan masyarakat yang cerdas dan perubahan tingkah laku baik intelektual,moral dan sosial. Guru merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilakukan. Guru juga hendaknya mengetahui kebutuhan para siswa. Guru menjadi bagian penting sebab dengan pendidikan, manusia mampu mengembangkan nalar berpikirnya sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kemampuan teknis atau pun non-teknis lainnya. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut perlu dilakukan usaha yang semaksimal mungkin dari guru, guru harus mampu dalam mengelola komponen pembelajaran dan kreatif dalam mengembangkan meteri pelajaran sehingga materi pelajaran tersebut dapat diserap oleh siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam pembelajaran hal penting yang harus dilakukan adalah menampilkan kelas sebagai ruang belajar yang mendidik, memberikan kepuasan tersendiri dan menghasilkan praktik pendidikan yang bermutu dengan menggunakan pengajaran yang tidak membosankan siswa, karena dalam praktiknya siswa sering mengalami kejenuhan terhadap pelajaran yang disebabkan cara pengajaran guru yang kurang tepat pada pelajaran tertentu salah satunya adalah pelajaran IPA. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu disiplin Ilmu di SMP. Pembelajaran IPA di SMP bertujuan agar siswa mampu mengembangkan rasa ingin tahu dan daya kritis terhadap sesuatu yang terjadi di alam sekitar, sehingga pembelajaran IPA di SMP siswa tidak hanya mampu menghafal konsep-konsep saja, tetapi siswa juga di tuntut mampu menjawab fenomena alam di lingkungan sekitarnya dengan daya pikir yang rasional dan ilmiah.

(http://portaluniversitasquality.ac.id:55555/1380/3/BAB%20I%20Siska%20Enjelina) 

1.2 Identifikasi Masalah          

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi kemampuan literasi digital kita masih rendah. 

1.3  Rumusan Masalah

            Berpijak dari latar belakang dan identifikasi permasalahan, maka rumusan masalah penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut.

1)   Bagaimana meningkatkan kemampuan literasi digital siswa.
2)   Penerapan mentode apa yang mampu meningkatkan literasi digital siswa.

1.4  Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:

1)   Meningkatkan kemampuan literasi digital sisw.
2)  Memberikan solusi metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan literasi digital siswa.

 1.5  Manfaat

Manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1)      Menambah wawasan bagaimana meningkatkan kemampuan literasi digital siswa.
2)      Sebagai sumbang pemikiran berkaitan dengan meningkatkan kemampuan lietarsi digital siswa. 
BAB  II
PEMBAHASAN 

2.1  Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPaCK)

2.1.1 Pengertian  Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPaCK)

Menurut Koehler, Mishra, Hershey dan Peruski, Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPaCK) merupakan kerangka kerja yang menggambarkan pemahaman guru tentang interaksi yang saling berkaitan antara teknologi, pedagogi dan konten. Technological Pedagogical Knowledge (TPaCK) merupakan sebuah kerangka untuk mengintregasikan teknologi dalam mengajar.

TPaCK terbentuk atas perpaduan 3 jenis pengetahuan dasar, yaitu Technological Knowledge (TK), Pedagogical Knowledge (PK), Content Knowledge (CK). Hasil perpaduan 3 pengetahuan dasar tersebut menghasilkan 4 pengetahuan baru, meliputi Pedagogical Content Knowledge (PCK), Technological Content Knowledge (TCK), Technological Pedagogical Knowledge (TPK) dan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPaCK)

(https://etheses.iainkediri.ac.id/14706/3/20201060_bab2.pdf)

2.1.2 Kelebihan Metode TPaCK

Berikut beberapa kelebihan penerapan TPaCK dalam pembelajaran yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber.

1)      Integrasi yang Holistik

TPaCK menawarkan pendekatan holistik untuk pengajaran dengan menggabungkan tiga aspek kunci: pengetahuan materi, pengetahuan pedagogis, dan pengetahuan teknologi. Ini memungkinkan guru untuk lebih efektif mengintegrasikan teknologi dalam materi pelajaran yang mereka ajarkan.

2)      Peningkatan Hasil Pembelajaran

Dengan memadukan pengetahuan tentang materi, strategi pengajaran, dan teknologi, guru dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik dan relevan bagi siswa. Hal ini dapat menghasilkan peningkatan pemahaman dan prestasi siswa.

3)      Pengembangan Kemampuan Guru

Model TPaCK memacu guru untuk mengembangkan kompetensi dalam tiga domain kunci: materi, pengajaran, dan teknologi. Hal ini dapat meningkatkan keterampilan dan pemahaman guru, membuat mereka lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran digital.

4)      Pembelajaran Personal

Model TPaCK memungkinkan guru untuk lebih personal dalam mengajar. Mereka dapat menyesuaikan penggunaan teknologi dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman siswa, sehingga setiap siswa dapat belajar dengan cara yang paling efektif bagi mereka.

5)      Mendorong Kreativitas Guru

Integrasi teknologi dalam Model TPaCK dapat mendorong guru untuk menjadi lebih kreatif dalam merancang pengalaman pembelajaran. Mereka dapat menciptakan sumber daya pembelajaran yang beragam, seperti video pembelajaran, simulasi, dan proyek kolaboratif.

6)      Kesiapan untuk Masa Depan

Model TPaCK membantu guru dan siswa untuk lebih siap menghadapi tantangan dunia digital masa depan. Dengan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, siswa belajar untuk menjadi mahir dalam penggunaan teknologi, yang merupakan keterampilan kunci dalam dunia kerja modern.

(https://hermananis.com/kelebihan-dan-kekurangan-tpack/)

2.2.  Literasi Digital

2.2.1. Pengertian Literasi Digital

Literasi digital merujuk pada keterampilan dan pengetahuan individu dalam menggunakan teknologi digital dan informasi secara efektif. Ini mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi, menggunakan, berbagi, dan menciptakan konten digital. Literasi digital melibatkan pemahaman tentang perangkat keras, perangkat lunak, internet, media sosial, dan keamanan digital. Individu yang memiliki literasi digital yang baik dapat berpartisipasi lebih efektif dalam berbagai aspek kehidupan modern yang semakin tergantung pada teknologi. Pada era digital, masyarakat seharusnya memiliki kompetensi literasi digital guna menyikapi perkembangan teknologi informasi secara positif. Literasi digital dipopulerkan sejak tahun 1997 oleh Paul Gilster. Gilster mengartikan literasi digital merupakan kemampuan atau keterampilan seseorang untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital secara efektif dan efisien dalam berbagai format.

Hague juga menyatakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan mengkaryakan dan berbagi dalam modus yang berbeda, semisal dalam membuat, mengelaborasi, mengkomunikasikan secara efektif dan memiliki pemahaman perihal kapan dan bagaimana menggunakan perangkat teknologi informasi guna mendukung proses tersebut. 

2.2.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Literasi Digital

Dalam literasi digital perlu memahami faktor-faktor penting agar penyaringan informasi berjalan dengan baik dan benar. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi literasi digital:

1)      Keterampilan Fungsional (Functional Skills)

Keterampilan ini merupakan kemampuan dan kompetensi teknis yang diperlukan untuk menjalankan berbagai alat digital dengan mahir. Bagian penting dari pengembangan keterampilan fungsional adalah mampu mengadaptasi keterampilan ini untuk mempelajari cara menggunakan teknologi baru. Fokusnya merupakan apa yang dapat dilakukan dengan alat digital dan apa yang perlu dipahami untuk menggunakannya secara efektif.

2)      Komunikasi dan Interaksi

Komunikasi dan interaksi yang melibatkan percakapan, diskusi, dan membangun ide satu sama lain untuk menciptakan pemahaman bersama. Kemampuan berkolaborasi merupakan bekerja dengan baik bersama orang lain untuk bersama-sama menciptakan makna dan pengetahuan. Hal ini selaras dengan tujuan literasi digital bagi generasi muda yang berusaha mengembangkan pemahaman mereka tentang bagaimana menciptakan secara kolaboratif dalam penggunaan teknologi digital.

3)      Berpikir Kritis

Pemikiran kritis melibatkan perubahan, analisis, atau pemrosesan informasi data atau gagasan yang diberikan untuk menafsirkan makna pada pengembangan wawasan. Sebagai komponen literasi digital juga melibatkan kemampuan dalam menggunakan keterampilan penalaran untuk terlibat dengan media digital dan mengevaluasinya. Keterlibatan menuntut untuk berpikir kritis dengan alat-alat digital.

(http://repository.uinfasbengkulu.ac.id/3057/3/BAB%20II.pdf)

2.2.3. Manfaat Literasi Digital

Manfaat dari literasi digital, yakni: 

1)    Kegiatan mencari dan memahami informasi dapat menambah wawasan individu. 

2)  Meningkatkan kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir serta memahami informasi. 

3)     Menambah penguasaan ‘kosakata’ individu, dari berbagai informasi yang dibaca. 

4)   Meningkatkan kemampuan verbal individu.  Literasi digital dapat meningkatkan daya fokus serta konsentrasi individu. 

5)    Menambah kemampuan individu dalam membaca, merangkai kalimat serta menulis informasi.

2.2.4. Kendala Literasi Digital

Ada berbagai tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan literasi digital di Indonesia, terutama karena kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, serta perbedaan tingkat pendidikan yang memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap teknologi.

1)      Kesenjangan Digital Antar Wilayah

Salah satu tantangan utama dalam mengatasi literasi digital di Indonesia adalah kesenjangan akses antara daerah perkotaan dan pedesaan. Meskipun akses internet semakin meluas, namun infrastruktur yang ada di daerah terpencil masih terbatas. Di daerah-daerah ini, banyak masyarakat yang belum memiliki akses yang memadai untuk terhubung ke internet atau bahkan belum mengenal teknologi digital dengan baik.

2)      Kurangnya Pemahaman Mengenai Keamanan Digital

Di sisi lain, meskipun banyak orang yang telah mengakses internet, banyak yang belum memahami pentingnya keamanan data pribadi di dunia digital. Keamanan digital sering kali terabaikan, yang mengarah pada berbagai kasus kejahatan siber dan kebocoran data. Ini menjadi tantangan besar dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perlindungan data pribadi dan cara-cara menjaga privasi secara online.

3)      Keterbatasan Pendidikan Teknologi

Sistem pendidikan di Indonesia, meskipun terus berkembang, masih banyak yang belum mengintegrasikan literasi digital ke dalam kurikulum pendidikan dengan baik. Hal ini membuat generasi muda yang berada di wilayah-wilayah tertentu tidak mendapatkan pendidikan yang cukup tentang teknologi dan cara memanfaatkannya secara efektif.

(https://peduliterasi.org/mengatasi-tantangan-literasi-digital-di-indonesia-solusi-dan-langkah-strategis/#Tantangan_Literasi_Digital_di_Indonesia)

2.2.5. Mengatasi Kendala Literasi Digital

Untuk mengatasi tantangan literasi digital yang ada, berbagai langkah strategis perlu dilakukan. Mulai dari kebijakan pemerintah hingga inisiatif yang melibatkan berbagai pihak, semuanya berperan dalam meningkatkan literasi digital.

1)      Peningkatan Infrastruktur Digital di Daerah Terpencil

Salah satu cara efektif untuk meningkatkan literasi digital adalah dengan memperkuat infrastruktur digital di daerah-daerah yang masih tertinggal. Pemerintah perlu berinvestasi dalam pembangunan jaringan internet yang dapat menjangkau daerah-daerah terpencil. Dengan begitu, masyarakat di wilayah tersebut akan lebih mudah mengakses informasi yang mereka butuhkan.

2)      Program Edukasi dan Pelatihan Literasi Digital

Pemerintah dan berbagai organisasi dapat bekerja sama untuk menyelenggarakan program pelatihan dan edukasi tentang literasi digital. Pelatihan ini bisa dilakukan secara daring maupun luring dan mencakup berbagai topik, seperti penggunaan perangkat digital, pengelolaan data pribadi, hingga cara memerangi hoaks. Dengan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang teknologi, masyarakat akan lebih siap untuk menghadapi tantangan digital yang ada.

3)      Keterlibatan Sektor Swasta dan Komunitas

Sektor swasta, terutama perusahaan teknologi, dapat berperan aktif dalam meningkatkan literasi digital melalui program-program sosial dan pengembangan produk yang ramah untuk masyarakat luas. Komunitas digital juga bisa menjadi agen perubahan yang mendorong masyarakat untuk lebih aktif dan bijak dalam menggunakan teknologi.

4)      Meningkatkan Keamanan Digital Masyarakat

Pendidikan mengenai keamanan digital juga sangat penting. Masyarakat perlu diajarkan cara menjaga data pribadi mereka dan menghindari potensi ancaman dunia maya seperti penipuan dan pencurian identitas. Pemerintah, bersama dengan organisasi non-pemerintah, dapat mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keamanan siber.

5)      Peran Pemerintah dalam Meningkatkan Literasi Digital

Pemerintah Indonesia memiliki peran yang sangat besar dalam mempercepat peningkatan literasi digital di seluruh lapisan masyarakat. Dengan melibatkan semua elemen bangsa, mulai dari pemerintah daerah hingga lembaga pendidikan, pemerintah dapat membuat kebijakan yang mendukung perkembangan teknologi sekaligus memastikan pemerataan akses informasi di seluruh wilayah.

Beberapa kebijakan yang dapat mendukung peningkatan literasi digital antara lain pemberian akses internet gratis di tempat-tempat umum, pengembangan pelatihan bagi masyarakat di daerah terpencil, serta integrasi literasi digital dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah. Program-program ini akan membantu mengurangi kesenjangan dan memberikan kesempatan bagi semua masyarakat untuk memanfaatkan teknologi dengan bijak.

2.3. Analisa Hasil Asesmen Formatif

Dalam proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran TPaCK, dilakukan dengan menggabungkan kompetensi Technological Pedagogical Content Knowledge. Setelah proses dijalankan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran, maka dilakukan assesmen formatif untuk mengetahui hasil proses belajar mengajar.

Dan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Dari hasil assesmen formatif diperoleh nilai rata-rata sebesar 89/100. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran TPaCK dapat meningkatkan kemampuan literasi digital siswa. 



BAB III
PENUTUP


3.1 Simpulan

Dari pembahasan yang telah penulis paparkan, maka dapat diambil kesimpulan:

1) Dengan menerapkan model pembelajaran TPaCK, dapat meningkatkan kemampuan literasi digital siswa..

2) Dimana hasil analisis assesmen formatif memiliki rata-rata capaian siswa sebesar 89/100.

3.2 Saran

Berdasarkan simpulan tersebut, maka penulis menyampaikan saran sebagai berikut.

1) Untuk lebih meningkatkan kemampuan literasi digital siswa guru dapat menerapkan model pembelajaran TPaCK.

2) Guna mengurangi kendala literasi digital siswa dapat dilakukan dengan cara komunikasi dan kerjasama yang baik antar semua komponen; baik orang tua, pemerintah, maupun masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA



Mishra, P. dan M. J. Koehler. (2006). Technological Pedagogical Content Knowledge: A Framework for Teacher Knowledge. Teachers College Record.

Jazimatul Husna dkk. (2017., Antologi Literasi Digital (Yogyakarta: Azyan Mitra Media,

Mulyasa, E. (2005). Menjadi Guru Profesional Menciptaklan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Hewitt, J. (2008). Reviewing the handbook of technological pedagogical pedagogical content knowledge (TPACK) for educators. Canadian Journal of Science, Mathematics, and Technology Education.
















Komentar

Postingan Populer

PENGUNJUNG

Flag Counter

KALENDER

Calendar Widget by CalendarLabs