TPaCK, UPAYA PENINGKATAN LITERASI DIGITAL SISWA
LITERASI DIGITAL SISWA
![]() |
| WIBOWO, S.Pd., M.Si. |
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan rapor pendidikan 2024 Kemampuan literasi yaitu;
Kegiatan belajar mengajar di satuan
pendidikan harus memperhatikan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Keputusan
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang
Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Prinsip kegiatan
pembelajaran yang diamanatkan adalah:
1) Pembelajaran dirancang
dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian siswa saat
ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan
perkembangan siswa yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan
menyenangkan;
2) Pembelajaran dirancang
dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang
hayat;
3) Proses pembelajaran
mendukung perkembangan kompetensi dan karakter siswa secara holistik;
4) Pembelajaran yang
relevan yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan
budaya siswa, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra; dan
5) Pembelajaran
berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.
Prinsip-prinsip di
atas hendaknya diterapkan secara baik dalam kegiatan belajar mengajar di satuan
pendidikan.
(https://ditsmp.kemdikbud.go.id/lima-prinsip-pembelajaran-dalam-kurikulum-merdeka/)
Mengacu hal tersebut,
maka pembelajaran harus dirancang untuk mengembangkan kemampuan dan karakter siswa
secara holistik serta bermakna dan menyenangkan. Untuk itu guru perlu membuat
stategi pembelajaran yang memungkinkan materi pembelajaran dapat tersampaikan secara
tepat. Tentunya hal ini dibutuhkan sebuah metode yang dikembangkan oleh seorang
guru, yang disesuaikan dengan karakter siswa serta kekhasan dari materi yang
akan disampaikan.
Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajaan dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan,pengadilan diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.
Drs.Syahril (2017:2) Pendidikan merupakan suatu
kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, karena dimanapun dan kapanpun
di dunia ini terdapat pendidikan. Hasbullah (2017:1) Pendidikan adalah usaha
manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam
masyarakat dan kebudayaan. Bisri Mustofa (2015:7) pendidikan dapat diartikan
sebagai sebuah proses sebagai metode-metode tertentu sehingga orang memeroleh
pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
Dalam undang-undang Republik Indonesia tentang sistem Pendidikan Nasional pasal
1 ayat (1) No.2 Tahun 2003 SISMPIKNAS menyatakn bahwa :
Tujuan Pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,sehat jasmani dan rohani, mempunyai keperibadian dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Didalam naskah akademik tentang pembelajaran mendalam
disebutkan bahwa Kerangka pembelajaran merupakan panduan sistematis untuk
menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung pembelajaran. Fokus utama
kerangka ini adalah mendorong pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan
kontekstual melalui praktik, lingkungan, dan kemitraan yang terencana.
Penerapan PM tidak hanya bergantung pada pendekatan kognitif, tetapi juga
melibatkan empat komponen penting yang saling mendukung dan membentuk
pengalaman belajar yang holistik bagi siswa. Keempat komponen ini adalah
praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital, dan
kemitraan pembelajaran.
Secara umum pendidikan merencanakan segala upaya
untuk mempengaruhi orang lain baik individu maupun kelompok sehingga dapat
melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Unsur-unsur pendidikan
yang terlibat dalam proses pendidikan yaitu siswa, guru, sekolah, kurikulum,
materi, dan model. Siswa merupakan orang yang memiliki potensi dasar yang perlu
dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun secara psikis. Tujuan
pendidikan pada dasarnya menciptakan masyarakat yang cerdas dan perubahan tingkah
laku baik intelektual,moral dan sosial. Guru merupakan salah satu unsur yang
sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilakukan.
Guru juga hendaknya mengetahui kebutuhan para siswa. Guru menjadi bagian
penting sebab dengan pendidikan, manusia mampu mengembangkan nalar berpikirnya
sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kemampuan teknis atau pun non-teknis
lainnya. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut perlu dilakukan usaha yang semaksimal
mungkin dari guru, guru harus mampu dalam mengelola komponen pembelajaran dan
kreatif dalam mengembangkan meteri pelajaran sehingga materi pelajaran tersebut
dapat diserap oleh siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam
pembelajaran hal penting yang harus dilakukan adalah menampilkan kelas sebagai
ruang belajar yang mendidik, memberikan kepuasan tersendiri dan menghasilkan
praktik pendidikan yang bermutu dengan menggunakan pengajaran yang tidak
membosankan siswa, karena dalam praktiknya siswa sering mengalami kejenuhan
terhadap pelajaran yang disebabkan cara pengajaran guru yang kurang tepat pada
pelajaran tertentu salah satunya adalah pelajaran IPA. Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) merupakan salah satu disiplin Ilmu di SMP. Pembelajaran IPA di SMP
bertujuan agar siswa mampu mengembangkan rasa ingin tahu dan daya kritis
terhadap sesuatu yang terjadi di alam sekitar, sehingga pembelajaran IPA di SMP
siswa tidak hanya mampu menghafal konsep-konsep saja, tetapi siswa juga di
tuntut mampu menjawab fenomena alam di lingkungan sekitarnya dengan daya pikir
yang rasional dan ilmiah.
(http://portaluniversitasquality.ac.id:55555/1380/3/BAB%20I%20Siska%20Enjelina)
1.2
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi kemampuan literasi digital kita masih rendah.
1.3 Rumusan
Masalah
Berpijak dari latar belakang dan identifikasi permasalahan, maka rumusan masalah penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut.
2) Penerapan mentode apa yang mampu meningkatkan literasi digital siswa.
1.4 Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.5 Manfaat
1) Menambah wawasan bagaimana meningkatkan kemampuan literasi digital siswa.
2) Sebagai sumbang pemikiran berkaitan dengan meningkatkan kemampuan lietarsi digital siswa.
PEMBAHASAN
2.1 Technological
Pedagogical and Content Knowledge (TPaCK)
2.1.1
Pengertian Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPaCK)
Menurut
Koehler, Mishra, Hershey dan Peruski, Technological Pedagogical and Content
Knowledge (TPaCK) merupakan kerangka kerja yang menggambarkan pemahaman guru
tentang interaksi yang saling berkaitan antara teknologi, pedagogi dan konten.
Technological Pedagogical Knowledge (TPaCK) merupakan sebuah kerangka untuk
mengintregasikan teknologi dalam mengajar.

TPaCK
terbentuk atas perpaduan 3 jenis pengetahuan dasar, yaitu Technological
Knowledge (TK), Pedagogical Knowledge (PK), Content Knowledge (CK). Hasil
perpaduan 3 pengetahuan dasar tersebut menghasilkan 4 pengetahuan baru,
meliputi Pedagogical Content Knowledge (PCK), Technological Content Knowledge
(TCK), Technological Pedagogical Knowledge (TPK) dan Technological Pedagogical
Content Knowledge (TPaCK)
(https://etheses.iainkediri.ac.id/14706/3/20201060_bab2.pdf)
2.1.2 Kelebihan Metode TPaCK
Berikut
beberapa kelebihan penerapan TPaCK dalam pembelajaran yang berhasil kami
rangkum dari berbagai sumber.
1)
Integrasi yang Holistik
TPaCK menawarkan
pendekatan holistik untuk pengajaran dengan menggabungkan tiga aspek kunci:
pengetahuan materi, pengetahuan pedagogis, dan pengetahuan teknologi. Ini
memungkinkan guru untuk lebih efektif mengintegrasikan teknologi dalam materi
pelajaran yang mereka ajarkan.
2)
Peningkatan Hasil Pembelajaran
Dengan memadukan pengetahuan tentang materi, strategi pengajaran, dan teknologi, guru dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik dan relevan bagi siswa. Hal ini dapat menghasilkan peningkatan pemahaman dan prestasi siswa.
3)
Pengembangan Kemampuan Guru
Model TPaCK memacu
guru untuk mengembangkan kompetensi dalam tiga domain kunci: materi,
pengajaran, dan teknologi. Hal ini dapat meningkatkan keterampilan dan
pemahaman guru, membuat mereka lebih siap menghadapi tantangan pembelajaran
digital.
4)
Pembelajaran Personal
Model TPaCK
memungkinkan guru untuk lebih personal dalam mengajar. Mereka dapat menyesuaikan
penggunaan teknologi dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman siswa, sehingga
setiap siswa dapat belajar dengan cara yang paling efektif bagi mereka.
5)
Mendorong Kreativitas Guru
Integrasi teknologi
dalam Model TPaCK dapat mendorong guru untuk menjadi lebih kreatif dalam
merancang pengalaman pembelajaran. Mereka dapat menciptakan sumber daya
pembelajaran yang beragam, seperti video pembelajaran, simulasi, dan proyek
kolaboratif.
6)
Kesiapan untuk Masa Depan
Model TPaCK
membantu guru dan siswa untuk lebih siap menghadapi tantangan dunia digital
masa depan. Dengan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, siswa belajar
untuk menjadi mahir dalam penggunaan teknologi, yang merupakan keterampilan
kunci dalam dunia kerja modern.
(https://hermananis.com/kelebihan-dan-kekurangan-tpack/)
2.2. Literasi Digital
2.2.1.
Pengertian Literasi Digital
Literasi
digital merujuk pada keterampilan dan pengetahuan individu dalam menggunakan
teknologi digital dan informasi secara efektif. Ini mencakup kemampuan
mengakses, mengevaluasi, menggunakan, berbagi, dan menciptakan konten digital.
Literasi digital melibatkan pemahaman tentang perangkat keras, perangkat lunak,
internet, media sosial, dan keamanan digital. Individu yang memiliki literasi
digital yang baik dapat berpartisipasi lebih efektif dalam berbagai aspek
kehidupan modern yang semakin tergantung pada teknologi. Pada era digital,
masyarakat seharusnya memiliki kompetensi literasi digital guna menyikapi
perkembangan teknologi informasi secara positif. Literasi digital dipopulerkan
sejak tahun 1997 oleh Paul Gilster. Gilster mengartikan literasi digital
merupakan kemampuan atau keterampilan seseorang untuk memahami dan menggunakan
informasi dari berbagai sumber digital secara efektif dan efisien dalam
berbagai format.
Hague juga menyatakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan mengkaryakan dan berbagi dalam modus yang berbeda, semisal dalam membuat, mengelaborasi, mengkomunikasikan secara efektif dan memiliki pemahaman perihal kapan dan bagaimana menggunakan perangkat teknologi informasi guna mendukung proses tersebut.
2.2.2.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Literasi Digital
Dalam
literasi digital perlu memahami faktor-faktor penting agar penyaringan
informasi berjalan dengan baik dan benar. Berikut beberapa faktor yang
mempengaruhi literasi digital:
1)
Keterampilan
Fungsional (Functional Skills)
Keterampilan ini merupakan kemampuan dan kompetensi teknis yang
diperlukan untuk menjalankan berbagai alat digital dengan mahir. Bagian penting
dari pengembangan keterampilan fungsional adalah mampu mengadaptasi
keterampilan ini untuk mempelajari cara menggunakan teknologi baru. Fokusnya
merupakan apa yang dapat dilakukan dengan alat digital dan apa yang perlu
dipahami untuk menggunakannya secara efektif.
2)
Komunikasi dan
Interaksi
Komunikasi dan interaksi yang melibatkan percakapan, diskusi, dan
membangun ide satu sama lain untuk menciptakan pemahaman bersama. Kemampuan
berkolaborasi merupakan bekerja dengan baik bersama orang lain untuk
bersama-sama menciptakan makna dan pengetahuan. Hal ini selaras dengan tujuan
literasi digital bagi generasi muda yang berusaha mengembangkan pemahaman
mereka tentang bagaimana menciptakan secara kolaboratif dalam penggunaan
teknologi digital.
3)
Berpikir
Kritis
Pemikiran
kritis melibatkan perubahan, analisis, atau pemrosesan informasi data atau
gagasan yang diberikan untuk menafsirkan makna pada pengembangan wawasan.
Sebagai komponen literasi digital juga melibatkan kemampuan dalam menggunakan
keterampilan penalaran untuk terlibat dengan media digital dan mengevaluasinya.
Keterlibatan menuntut untuk berpikir kritis dengan alat-alat digital.
(http://repository.uinfasbengkulu.ac.id/3057/3/BAB%20II.pdf)
2.2.3. Manfaat
Literasi Digital
Manfaat dari
literasi digital, yakni:
1) Kegiatan
mencari dan memahami informasi dapat menambah wawasan individu.
2) Meningkatkan
kemampuan individu untuk lebih kritis dalam berpikir serta memahami
informasi.
3) Menambah
penguasaan ‘kosakata’ individu, dari berbagai informasi yang dibaca.
4) Meningkatkan
kemampuan verbal individu. Literasi digital dapat meningkatkan daya fokus
serta konsentrasi individu.
2.2.4.
Kendala Literasi Digital
Ada berbagai
tantangan yang dihadapi dalam meningkatkan literasi digital di Indonesia,
terutama karena kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, serta
perbedaan tingkat pendidikan yang memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap
teknologi.
1)
Kesenjangan
Digital Antar Wilayah
Salah satu
tantangan utama dalam mengatasi literasi digital di Indonesia adalah
kesenjangan akses antara daerah perkotaan dan pedesaan. Meskipun akses internet
semakin meluas, namun infrastruktur yang ada di daerah terpencil masih
terbatas. Di daerah-daerah ini, banyak masyarakat yang belum memiliki akses
yang memadai untuk terhubung ke internet atau bahkan belum mengenal teknologi
digital dengan baik.
2)
Kurangnya
Pemahaman Mengenai Keamanan Digital
Di sisi lain,
meskipun banyak orang yang telah mengakses internet, banyak yang belum memahami
pentingnya keamanan data pribadi di dunia digital. Keamanan digital sering kali
terabaikan, yang mengarah pada berbagai kasus kejahatan siber dan kebocoran
data. Ini menjadi tantangan besar dalam mengedukasi masyarakat tentang
pentingnya perlindungan data pribadi dan cara-cara menjaga privasi secara
online.
3)
Keterbatasan
Pendidikan Teknologi
Sistem
pendidikan di Indonesia, meskipun terus berkembang, masih banyak yang belum
mengintegrasikan literasi digital ke dalam kurikulum pendidikan dengan baik.
Hal ini membuat generasi muda yang berada di wilayah-wilayah tertentu tidak
mendapatkan pendidikan yang cukup tentang teknologi dan cara memanfaatkannya
secara efektif.
2.2.5.
Mengatasi Kendala Literasi Digital
Untuk mengatasi tantangan literasi digital yang ada, berbagai langkah strategis perlu dilakukan. Mulai dari kebijakan pemerintah hingga inisiatif yang melibatkan berbagai pihak, semuanya berperan dalam meningkatkan literasi digital.
1)
Peningkatan
Infrastruktur Digital di Daerah Terpencil
Salah satu cara efektif untuk meningkatkan literasi
digital adalah dengan memperkuat infrastruktur digital di daerah-daerah yang
masih tertinggal. Pemerintah perlu berinvestasi dalam pembangunan jaringan
internet yang dapat menjangkau daerah-daerah terpencil. Dengan begitu,
masyarakat di wilayah tersebut akan lebih mudah mengakses informasi yang mereka
butuhkan.
2)
Program Edukasi
dan Pelatihan Literasi Digital
Pemerintah dan berbagai organisasi dapat bekerja sama
untuk menyelenggarakan program pelatihan dan edukasi tentang literasi digital.
Pelatihan ini bisa dilakukan secara daring maupun luring dan mencakup berbagai
topik, seperti penggunaan perangkat digital, pengelolaan data pribadi, hingga
cara memerangi hoaks. Dengan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang
teknologi, masyarakat akan lebih siap untuk menghadapi tantangan digital yang
ada.
3)
Keterlibatan
Sektor Swasta dan Komunitas
Sektor swasta, terutama perusahaan teknologi, dapat
berperan aktif dalam meningkatkan literasi digital melalui program-program
sosial dan pengembangan produk yang ramah untuk masyarakat luas. Komunitas
digital juga bisa menjadi agen perubahan yang mendorong masyarakat untuk lebih
aktif dan bijak dalam menggunakan teknologi.
4)
Meningkatkan
Keamanan Digital Masyarakat
Pendidikan mengenai keamanan digital juga sangat
penting. Masyarakat perlu diajarkan cara menjaga data pribadi mereka dan
menghindari potensi ancaman dunia maya seperti penipuan dan pencurian
identitas. Pemerintah, bersama dengan organisasi non-pemerintah, dapat
mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keamanan
siber.
5)
Peran Pemerintah
dalam Meningkatkan Literasi Digital
Pemerintah Indonesia memiliki peran yang sangat besar
dalam mempercepat peningkatan literasi digital di seluruh lapisan masyarakat.
Dengan melibatkan semua elemen bangsa, mulai dari pemerintah daerah hingga
lembaga pendidikan, pemerintah dapat membuat kebijakan yang mendukung
perkembangan teknologi sekaligus memastikan pemerataan akses informasi di
seluruh wilayah.
Beberapa kebijakan yang dapat mendukung peningkatan literasi digital antara lain pemberian akses internet gratis di tempat-tempat umum, pengembangan pelatihan bagi masyarakat di daerah terpencil, serta integrasi literasi digital dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah. Program-program ini akan membantu mengurangi kesenjangan dan memberikan kesempatan bagi semua masyarakat untuk memanfaatkan teknologi dengan bijak.
2.3. Analisa Hasil
Asesmen Formatif
Dalam
proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran TPaCK, dilakukan dengan
menggabungkan kompetensi Technological Pedagogical Content Knowledge. Setelah
proses dijalankan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran, maka dilakukan
assesmen formatif untuk mengetahui hasil proses belajar mengajar.
Dan
hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Dari
hasil assesmen formatif diperoleh nilai rata-rata sebesar 89/100. Hal ini
menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran TPaCK dapat meningkatkan
kemampuan literasi digital siswa.





Komentar
Posting Komentar