APLIKASI GAMELAN DIGITAL SEBAGAI JEMBATAN BUDAYA

 

HARMONI DIGITAL UNTUK JIWA PELAJAR:
PEMANFAATAN APLIKASI GAMELAN DIGITAL SEBAGAI JEMBATAN BUDAYA DAN BENTENG MORAL ANTI-PERUNDUNGAN BAGI PELAJAR DI SMP KESATRIAN 1 SEMARANG

Muhammad Khoirul Falah, S.Pd.

ABSTRAK

Best Practice ini merekam pengalaman terbaik dalam menghelat pembelajaran seni Gamelan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kesatrian 1 Semarang  melalui integrasi Aplikasi Gamelan Digital (seperti Gamelan JV atau Real Gamelan). Langkah ini merupakan respons ganda terhadap tantangan kontemporer: mengatasi keterbatasan sarana fisik Gamelan konvensional dan memberikan solusi berakar budaya untuk isu perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Aplikasi Gamelan Digital dipandang bukan sekadar alat, melainkan sebuah transformasi pedagogis yang menjadikan proses belajar fleksibel, interaktif, dan relevan (Gunawan et al., 2025). Melalui simulasi orkestra virtual, pelajar secara tak langsung menginternalisasi filosofi kolektif dan karakter "Lima T" (teteg, tatag, teguh, tanggon, dan trapsila), yang berfungsi sebagai fondasi untuk membangun empati dan keselarasan (laras) di sekolah (Harjanti et al., 2023).

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di tengah gempita era digital yang kian menggema, warisan budaya adi luhung Nusantara, khususnya gamelan, acapkali terasa jauh dari denyut nadi pelajar tingkat SMP. Instrumen adiluhung yang sarat filosofi ini terbentur pada realitas keterbatasan fisik seperangkat alat gamelan yang besar dan mahal. Kesenian tradisional ini pun berisiko kehilangan daya tariknya bagi generasi yang mendamba kepraktisan teknologi.

Bersamaan dengan tantangan pelestarian budaya tersebut, lingkungan sekolah menengah menghadapi sorotan tajam terkait isu perundungan. Dibutuhkan solusi pendidikan karakter yang tidak hanya reaktif, namun juga berakar pada kearifan lokal. Filosofi Gamelan, yang menganut prinsip keselarasan kolektif di mana setiap instrumen saling mengisi, menawarkan jawaban etika yang sempurna dan relevan untuk mengatasi masalah ini.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana gamelan digital dapat menjadi solusi inovatif dalam mengatasi keterbatasan fisik alat gamelan dan meningkatkan minat belajar praktik gamelan pelajar SMP Kesatrian 1 Semarang?

2. Bagaimana alur praktik pembelajaran gamelan digital dapat diimplementasikan untuk menanamkan nilai-nilai karakter "Lima T" sebagai benteng moral anti-perundungan bagi pelajar SMP Kesatrian 1 Semarang?

C. Tujuan dan Manfaat

Tujuan praktik baik ini adalah mendeskripsikan pemanfaatan gamelan digital sebagai media transformatif yang meningkatkan efektivitas praktik gamelan dan menanamkan karakter anti-perundungan yang berakar pada nilai budaya. Manfaatnya mencakup aksesibilitas tanpa batas dalam belajar dan pemanfaatan gawai sebagai alat literasi digital positif dalam pembentukan karakter.


BAB II
KAJIAN TEORI

A. Gamelan Digital sebagai Aksesibilitas Pembelajaran

Gamelan Digital adalah wujud digitalisasi yang menjadikan pembelajaran seni tradisional lebih fleksibel (Gunawan et al., 2025). Aplikasi berbasis gawai ini dapat diunduh secara gratis, memberikan pengalaman baru dan praktis dalam pembelajaran karawitan. Gamelan virtual, yang mengimplementasikan multimedia dalam Gamelan Jawa, dirancang untuk menanamkan pendidikan seni gamelan di masyarakat, khususnya murid SMP dan SMA (Tim Peneliti UII, n.d.). Selain itu, pemanfaatan media digital terbukti efektif membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran praktik karawitan, terutama saat pembelajaran daring (Jiwandono et al., 2021).

B. Filosofi Gamelan dan Nilai Karakter (Lima T)

Seni Gamelan yang memiliki nilai-nilai kolektif mengandung etika luhur yang dapat diterjemahkan menjadi karakter. Nilai "Lima T"teteg, tatag, teguh, tanggon, dan trapsila—merupakan filosofi Jawa yang relevan sebagai fondasi moral. Interaksi dengan Gamelan Digital terbukti mampu menjadi media pembentukan karakter ini (Harjanti et al., 2023).

            Nilai luhur gamelan memiliki relevansi dengan nilai anti-perundungan diejawantahkan dalam tabel berikut:


BAB III
PELAKSANAAN DAN HASIL BEST PRACTICE

A. Metode Pemecahan Masalah (Alur Praktik)

Penerapan praktik baik ini menggunakan model pembelajaran berbasis gawai dengan alur empat fase:

1. Fase Pengenalan dan Orientasi Digital

Guru membuka dengan ceramah tentang filosofi gamelan, kemudian memperkenalkan aplikasi gamelan digital yang dapat diunduh di gawai. Murid diarahkan untuk mengidentifikasi instrumen virtual dan membandingkannya dengan instrumen lainnya.

2. Fase Eksplorasi Notasi dan Irama Dasar

   Latihan Individu (Solfeggio Digital): Murid menggunakan instrumen saron barung pada aplikasi untuk melatih keterampilan solfeggio dan menguasai pola tabuhan dasar instrument saron. Proses ini menanamkan disiplin dan ketelitian.

   Aksesibilitas Praktik: Murid dapat belajar dan berlatih Gamelan kapan pun dan di mana pun tanpa terikat pada ketersediaan alat musik fisik yang besar dan mahal (Gunawan et al., 2025).

3. Fase Praktik Bersama (Ensemble Digital)

   Simulasi Kolosal dan Kooperatif: Murid dibagi per kelompok instrumen. Setiap gawai memainkan satu jenis alat Gamelan, mensimulasikan pengalaman bermain dalam satu orkestra gamelan. Pengalaman kooperatif ini menumbuhkan kesadaran bahwa setiap nada (individu) itu penting, yang secara sublim meniadakan sikap meremehkan atau mengucilkan (inti dari bullying).

   Pendampingan Guru: Guru memberikan notasi lalu memberikan arahan dan koreksi terhadap pola permainan murid.

4. Fase Evaluasi dan Kreasi Tugas

   Pengumpulan Tugas Video: Murid menampilkan hasil praktik gamelan mereka menggunakan aplikasi Gamelan Digital. Tugas dikumpulkan dalam format video, terbukti efektif untuk penilaian praktik karawitan secara daring (Jiwandono et al., 2021)

   Proyek Kolaborasi: Murid memainkan aransemen gending sederhana, mendorong tanggung jawab sosial dan praktik nilai Trapsila (sopan santun) melalui kerja sama tim.

B. Hasil yang Dicapai

Implementasi ini menghasilkan outstanding result:

1.  Peningkatan Minat dan Motivasi Belajar: Format digital terbukti menarik perhatian dan meningkatkan minat murid SMP Kesatrian 1 terhadap karawitan.

2.  Keterampilan Praktik yang Efektif: Murid dapat mencapai tujuan pembelajaran praktik gamelan, dibuktikan dengan tugas video yang menunjukkan penguasaan pola tabuhan dasar.

3.  Internalisasi Nilai Anti-Perundungan: Konsep ensemble Gamelan berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif. Pelajar menginternalisasi nilai Tatag (keberanian) untuk melaporkan perundungan, Teteg (keteguhan) untuk tidak mudah terpengaruh kebiasaan negatif, Tanggon (ketangguhan) untuk bangkit dari kesulitan, dan Teguh (kekuatan mental) memberikan ketahanan terhadap tekanan, serta Trapsila (sopan santun) sebagai fondasi pencegahan kekerasan.

 

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan

Pemanfaatan Aplikasi Gamelan Digital adalah langkah progresif dalam menjawab tantangan sosial perundungan. Inovasi ini membuktikan bahwa seni Gamelan dapat melestarikan warisan budaya sekaligus memperbarui relevansinya sebagai media pembentuk karakter yang tangguh, empatik, dan beradab. Melalui perpaduan harmonis antara tradisi dan teknologi, suara merdu Gamelan memastikan Gamelan terus bergaung—bahkan dari layar gawai—mengukuhkan posisinya sebagai bekal karakter luhur bagi generasi penerus bangsa.

B. Saran dan Rekomendasi

Pemanfaatan Gamelan Digital perlu dioptimalkan melalui pelatihan guru secara berkala. Sekolah disarankan untuk mengintegrasikan proyek kolaborasi antar mata pelajaran menggunakan platform Gamelan Digital, untuk memperkuat kesadaran kolektif. Masyarakat, layaknya orkestra Gamelan, hanya akan mencapai keindahan sejati (laras) jika setiap anggotanya bekerja sama, saling menghormati, dan menjauhi disonansi kekerasan.

DOKUMENTASI;









Komentar

Postingan Populer

PENGUNJUNG

Flag Counter

KALENDER

Calendar Widget by CalendarLabs