IMPLEMENTASI DEEP LEARNING PADA MATA PELAJARAN PAI
IMPLEMENTASI DEEP LEARNING PADA MATA PELAJARAN
PAI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNIN
(Best practice untuk meningkatkan
keaktifan dan hasil belajar murid kelas IXB
di SMP Kesatrian 1 Semarang)
IMPLEMENTASI DEEP LEARNING PADA MATA PELAJARAN
PAI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNIN
(Best practice untuk meningkatkan
keaktifan dan hasil belajar murid kelas IXB
di SMP Kesatrian 1 Semarang)
ABSTRAK
Best practice ini bertujuan untuk menemukan pengalaman
terbaik mengenai model pembelajaran yang efektif dalam rangka meningkatkan keaktifan dan Hasil Belajar Mata Pelajaran PAI Dan Budi Pekerti materi
“Bersyukur dengan akikah peduli sesama dengan berkurban” Kelas IXB SMP
Kesatrian 1 Semarang.
Adapun yang melatarbelakangi dari best practice ini adalah: pertama, Kurangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Kedua, keaktifan siswa masih kurang dalam proses
pembelajaran, kedua, siswa kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran dan ketiga, hasil belajar sebagian besar
siswa masih belum tuntas.
Pelaksanaan best
practice ini menggunakan pendekatan deep learning dan model problem
based learning dalam pembelajaran. Kelebihan model pembelajaran inu adalah
Siswa akan terbiasa menghadapi masalah (problem solving) dan merasa tertantang
untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya terkait dengan pembelajaran dalam
kelas, tetapi juga menghadapi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, rasa ingin tahu siswa meningkat dan terdorong untuk
berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
Kekurangan model pembelajaran problem based
learninga adalah aktifitas pembelajaran membutuhkan waktu yang relatif lama
serta dibutuhkan pembiasaan bagi siswa secara terus menerus.
Pembelajaran menggunakan problem based learning yang dilakukan penulis merupakan pengalaman terbaik dalam rangka untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran dan hasil belajar PAI dan Budi Pekerti pada kelas IXB di SMP Kesatrian 1 Semarang.
Kata kunci: Problem based learning,
keaktifan, hasil belajar.

BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Best
Practice
Belajar merupakan usaha sadar untuk
mendapatkan berbagai macam pengalaman dalam kehidupan. Belajar bisa terjadi,
jika terjadi interaksi komunikasi antar berbagai komponen pembelajaran.
Komponen-komponen tersebut meliputi tujuan, materi, metode, strategi belajar
mengajar dan komponen
evaluasi. Istilah lain yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya, bahwa komponen
sistem pembelajaran itu meliputi siswa, tujuan pembelajaran, kondisi
(pengalaman belajar siswa), sumber-sumber belajar, dan hasil belajar. Dalam
proses pembelajaran kegiatannya minimal dilakukan oleh guru dengan siswa.
Tingkah laku guru disebut mengajar sedangkan perilaku siswa dinamakan belajar.
Berdasarkan
pemgamatan
penulis, Pembelajaran
pendidikan agama islam dan budi pekerti berjalan dengan baik,
namun keaktifan dan hasil belajar peserta didik masih perlu ditingkatkan.
Pendekatan deep learning
hadir sebagai solusi terbaik untuk meningkatkan kualitas pembelajara sebagai
mana yang telah disosialisasikan oleh pemerintah secara masif. Namun demikian, Penulis
menilai bahwa
pendekatan itu membutuhkan model pembelajaran yang efektif untuk keberhasilan
pembelajaran, karena model pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
pembelajaran, guna menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan,
dalam rangka untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif setidaknya
ada lima jenis variabel yang menentukan keberhasilan belajar siswa, yakni (1)
melibatkan siswa secara aktif, (2) menarik minat dan perhatian siswa, (3)
membangkitkan motivasi siswa, (4) prinsip individualitas, serta (5) peragaan
dalam pengajaran.
Menyikapi
perihal di atas, diperlukan suatu pencarian dan
pemilihan model
pembelajaran yang tepat,
efektif dan menyenangkan. Sehingga penulis memilih model
pembelajaran problem based learning sebagai solusi untuk menjadikan
pembelajaran semakin berkualitas. Disamping itu, sebagai strategi dalam
melaksanakan pembelajaran mendalam. Oleh karena itu, pada
makalah ini
Penulis mengambil judul Implementasi
Deep Learning pada pembelajaran PAI dengan menggunakan model pembelajaran based
learning,
guna meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik. Dengan adanya model
pembelajaran ini, diharapkan hasil belajar peserta didik bisa meningkat dan
bisa lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas karena semua siswa terlibat secara langsung.
B.
Manfaat
dan Signifikansi Best
Practice
Berpijak
dari maksud dan tujuan penulisan Best Practice tersebut, maka berbagai
manfaat penulisan best practice ini bisa diperoleh, di antaranya sebagai
berikut.
1. Manfaat Teoritis
a. Meningkatkan kualitas pembelajaran
mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti,.
b. Memperbaiki layanan maupun hasil
kerja dalam suatu lembaga atau sekolah.
c. Mengembangkan profesionalisme
pendidik untuk meningkatkan kinerja pendidik.
d. Mendapatkan pengalaman mengajar
terbaik (best practice) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar
peserta didik.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Pendidik, sebagai bahan
pertimbangan untuk pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti di masa yang akan datang, khususnya pada aspek Ibadah tentang Akikah
dan Qurban
b. Bagi Peserta Didik, dapat
meningkatkan hasil belajar dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran.
c. Bagi Sekolah, dapat menginspirasi
teman sejawat untuk menggunaka model pembelajaran problem based learning,
supaya hasil belajar dan keaktifan peserta didik meningkat.
d. Bagi Penulis, bermanfaat untuk
menemukan praktik mengajar yang terbaik (Best Practice) untuk meningkatkan
keaktifan dan hasil belajar peserta didik.
Adapun signifikansi bahwa penulisan best practice ini harus dilakukan adalah agar penulis selaku pelaksana pendidikan di lapangan bisa mendapatkan pengalaman terbaik.
C.
Kerangka
Berpikir
Adapun
kerangka berfikir pada best practice ini adalah sebagai berikut:

BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
A. Deep Learning
Deep Learning dalam konteks pendidikan mengacu pada
pembelajaran yang mendalam dan bermakna, di mana peserta didik tidak hanya
menghafal informasi, tetapi benar-benar memahami, menginternalisasi, dan mampu
menerapkan pengetahuan dalam berbagai konteks. Dalam kajian pendidikan, konsep
ini sering dikaitkan dengan tiga aspek utama: Mindful
Learning (Berkesadaran), Meaningful (Bermakna)
Learning, dan Joyful
Learning (Menyenangkan).(Khairul Anwar: 2024)
Deep learning dalam pendidikan merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada
pemahaman mendalam dan makna materi, bukan sekadar hafalan. Hal ini melibatkan
pengintegrasian informasi, refleksi, dan penerapan pengetahuan dalam konteks yang
relevan. Deep learning memfasilitasi siswa untuk memahami hubungan antar
konsep, berpikir kritis, dan menciptakan pengetahuan baru. Hal ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang
materi dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
B. Problem
based learning
Problem Based Learning
yang selanjutnya disebut PBL, adalah salah satu
model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan berbagai masalah
yang dihadapi dalam kehidupannya. Dengan model pembelajaran ini, peserta didik
dari sejak awal sudah dihadapkan kepada berbagai masalah kehidupan yang mungkin
akan ditemuinya kelak pada saat mereka sudah lulus dari bangku sekolah. (Abudin
Nata : 2009) adapun cara pe nyajian bahan
pelajarannya dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis
dalam usaha mencari pemecahan atau jawaban oleh siswa”.
Menurut pendapat Arends, pada esensinya pembelajaran berbasis
masalah (Problem Based Learning)
adalah :
Model Problem
Based Learning (PBL) adalah pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada
permasalahan-permasalahan. Boud dan Falleti (1997) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah inovasi
yang paling signifikan dalam pendidikan. Margetson (1994) mengemukakan bahwa
kurikulum PBM membantu untuk meningkatkan perkembangan ketrampilan belajar
sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuk, reflektif, kritis dan belajar
aktif.(Rusman: 2011)
Model
pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah seperangkat model
mengajar yang menggunakan masalah sebagai
fokus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, materi, dan
pengaturan diri. Model Problem Based Learning (PBL) bukan saja dapat
meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, tetapi juga dapat meningkatkan
keterampilan berpikir ilmiah, berpikir berdasarkan prinsip ilmu pengetahuan
yang objektif, metodologis, sistematis dan universal. Pembelajaran berbasis
masalah memiliki tiga karakteristik, yakni: (1) pelajaran berfokus pada
memecahkan masalah, (2) tanggung jawab untuk memecahkan masalah bertumpu pada
siswa, dan (3) pengajar mendukung proses saat peserta ajar mengerjakan masalah.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas,
dapat disimpulkan bahwa Problem Based
Learning merupakan
model pembelajaran yang bias mendorong siswa untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung, dan mampu meningkatkan hasil
belajar siswa. Melalui PBL, seorang
siswa akan memiliki
keterampilan dalam memecahkan masalah yang selanjutnya
dapat ia terapkan pada saat ini menghadapi masalah yang sesungguhnya di
masyarakat.
1. Karakteristik Problem Based
Learning (PBL)
Problem
Based Learning (PBL) memiliki karakteristik tersendiri
dalam hal konsepnya maupun penerapannya di dalam kelas. Adapun karakteristik Problem Based Learning (PBL) adalah
sebagai berikut:
a)
Permasalahan menjadi starting point dalam belajar.
b)
Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur.
c) Permasalahan membutuhkan perspektif ganda.
d) Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki
siswa, sikap dan kompetensi
yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam
belajar.
e) Belajar pengarahan diri menjadi
hal yang utama.
f) Pemanfaatan sumber pengetahuan yang
beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber
informasi merupakan proses yang esensial dalam PBL.
g) Belajar adalah kolaboratif,
komunikasi, dan kooperatif.
h) Pengembangan keterampilan inquiry
dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk
mencari solusi dari sebuah permasalahan.
i) Keterbukaan proses dalam PBL
meliputi sintesis dan integrasi dari
sebuah proses belajar.
j) PBL melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.(Rusman:2011)
Berdasarkan karakteristik di atas, tampak
jelas bahwa dalam Problem Based Learning (PBL) pada proses
pembelajaran, dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh
siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuanya tentang apa yang
mereka telah ketahui dan apa yang mereka
perlu ketahui untuk
memecahkan masalah tersebut.
Siswa banyak melakukan kegiatan yang merangsang
aktivitas untuk berfikir secara ilmiah dalam menyelesaikan suatu
masalah, serta dari karakteristik Problem
Based Learning (PBL) kita dapat mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran
di kelas yang berorientasi pada Problem
Based Learning (PBL).
2.
Langkah-langkah Problem Based Learning (PBL)
Penerapan Problem Based Learning (PBL) dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Ibrahim dan Nur dan Ismail mengemukakan bahwa langkah-langkah Problem Base Learning (PBL) adalah sebagai berikut:


3. Kelebihan dan Kekurangan Problem
Based Learning (PBL)
Setiap model pembelajaran
memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya di kelas.Kelebihan dari
penerapan model Problem based
learning ini antara lain:
a) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
b) Meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa (Critical Thinking)
c) Meningkatkan keaktifan siswa
d Memupuk solidaritas sosial dengan terbiasa berdiskusi dengan
teman teman sekelompok kemudian berdiskusi dengan teman- teman sekelompok
kemudian berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya.
e) Semakin mengakrabkan guru dengan siswa melalui proses
pembelajaran yang dirancang secra sistematis.
f) Karena ada kemungkinan suatu masalah harus diselesaikan siswa
melalui eksperimen, hal ini juga akan membiasakan siswa dalam melakukan suatu
percobaan atau eksperimen dalam pembelajaran.(Warsono & Hariyanto: 2013)
Sementara itu kekurangan dari penerapan model problem based learning
antara lain :
1)Tidak banyak guru yang mampu mengantarkan siswa kepada pemecahan
masalah.
2) memerlukan biaya mahal dan waktu yang panjang.
3) Aktivitas siswa yang dilaksanakan di luar sekolah
sulit dipantau guru.
B.
Keaktifan
Peserta Didik dalam Belajar
Proses pembelajaran
sangat memerlukan keaktifan siswa, tanpa adanya keaktifan siswa maka
pembelajaran terkesan membosankan. Keaktifan siswa sebagai unsur terpenting
dalam pembelajaran, karena keaktifan akan berpengaruh besar pada keberhasilan
proses pembelajaran. Semakin tinggi keaktifan siswa, maka keberhasilan proses
belajarpun harus semakin tinggi. Menurut Sardiman (2011: 100) keaktifan adalah
kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai
suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Djoko Santoso dkk (2007: 274)
menjelaskan bahwa pembelajaran yang berkualitas adalah terlibatnya peserta
didik secara aktif dalam pebelajaran. Keterlibatan yang dimaksud adalah:
aktivitas mendengarkan, komitmen terhadap tugas, mendorong berpartisipasi,
menghargai kontribusi/pendapat, menerima tanggungjawab, bertanya kepada
pengajar atau teman dan merespon pertanyaan. Menurut Dimyati dan Mudjiono
(2009: 90) keaktifan siswa dapat didorong oleh peran guru. Guru akan berusaha
memberi kesempatan pada siswa untuk berperan aktif, baik mencari, memproses dan
mengelola perolehan belajarnya. Berdasarkan pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa keaktifan adalah kegiatan berbuat dan berfikir yang meliputi
fisik maupun mental sebagai suatu rangkaian yang saling berhubungan dan tidak
dapat dipisahkan.
C. Hasil Belajar Peserta Didik
BAB III
IMPLEMENTASI DEEP LEARNING PADA PEMBELAJARAN PAI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL
PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING
A. Pelaksanaan Deep Learning dengan model Problem Based Learning
Pembelajaran diawali dengan salam, menyapa
dan memotivasi peserta didik, guru menyampaikan tema/materi pokok, tujuan pembelajaran, manfaat mempelajari materi,
dan rencana penilaian yang akan digunakan. selanjutnya peserta didik juga
diminta untuk membaca ayat al Qur’an terlebih dahulu.
Pelaksanaan Deep Learning dengan model pembelajaran problem based learning (PBL) yaitu sebagai mana pada rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:







B. Keaktifan dan Hasil
Belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti
Keaktifan peserta dikdik sangat penting
dalam proses pembelajaran, untuk meningkatkannya maka diperlukan usaha untuk
mencarai media pembelajaran yang tepat dan menarik bagi mereka.
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
ditemukan banyak metode dan model pembelajaran, namun dari hasil pengalaman
penulis model pembelajaran Problem based Learning sangat efektif untuk
meningkatkan keaktifan peserta didik.
Berdasarkan pengalaman penulis, proses pembelajaran untuk mata pelajaran PAI dan Budi pekerti materi menyayangi binatang dengan syariat penyembelihan, Penulis sampaikan dengan menggunakan PPT, video pembelajaran dan LKPD. Adapun Hasilnya dari penggunaan multimedia interaktif Edpuzzle adalah keaktifan dan hasil belajar siswa bisa meningkat signifikan.
A. Kesimpulan
Pembelajaran
PAI dan BP dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning terbukti
bisa meningkatkan keaktifan peserta didik, karena dengan aplikasi tersebut rasa
ingin tahu murid akan meningkat, sehingga peserta didik bisa terdorong dan
tertantang untuk memecahkan masalah yang dihadapai. Disamping itu, Implementasi
Deep Learning PAI dan BP dengan menggunakan model pembelajaran Problem based
learning lebih cepat memahamkan
siswa terkait dengan materi yang sedang dipelajari sehingga model ini bisa
meningkatkan hasil belajar PAI dan BP.
B. Saran
Hendaknya guru mencoba mengimplementasikan
Deep Learning menggunakan model pembelajaran Problem based
learning sebagai salah satu cara untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar
peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata.2009 Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Prenada
Media Group,.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Edisi Revisi . Jakarta:
Rineka Cipta.
Anwar Khairul, 2004, Modul pedagogik Deep Learning, Kemenag.RI
Rusman.
2011. Model-model
Pembelajaran:Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers,
Saminanto, Ed. Ismail SM. 2010. Ayo Praktik PTK: Penelitian Tindakan
Kelas, Semarang: Rasail Media Group.
Sardiman A.M. 2011,Interaksi dan
motivasi belajar mengajar:Jakarta: Rajawali Pers
Warsono
Dan Hariyanto. 2013. Pembelajaran Aktif:
Teori Dan Asasmen. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter (Konsepsi
Dan Aplikasinya Dalam
Lembaga
Pendidikan). Jakarta: Kencana media group.













Komentar
Posting Komentar