IMPLEMENTASI DEEP LEARNING PADA MATA PELAJARAN PAI

 

IMPLEMENTASI DEEP LEARNING PADA MATA PELAJARAN PAI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNIN
(Best practice untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar murid kelas IXB
di SMP Kesatrian 1 Semarang)

Muhamad Agus Hanif, M.S.I.

ABSTRAK

Best practice ini bertujuan untuk menemukan pengalaman terbaik mengenai model pembelajaran yang efektif dalam rangka  meningkatkan keaktifan dan Hasil Belajar  Mata Pelajaran PAI Dan Budi Pekerti materi “Bersyukur dengan akikah peduli sesama dengan berkurban” Kelas IXB SMP Kesatrian 1  Semarang.

Adapun yang melatarbelakangi dari best practice ini adalah: pertama, Kurangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Kedua, keaktifan siswa masih kurang dalam proses pembelajaran, kedua, siswa kurang semangat dalam mengikuti pembelajaran dan ketiga, hasil belajar sebagian besar siswa masih belum tuntas.  

Pelaksanaan best practice ini menggunakan pendekatan deep learning dan model problem based learning dalam pembelajaran. Kelebihan model pembelajaran inu adalah Siswa akan terbiasa menghadapi masalah (problem solving) dan merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya terkait dengan pembelajaran dalam kelas, tetapi juga menghadapi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, rasa ingin tahu siswa meningkat dan terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Kekurangan model pembelajaran problem based learninga adalah aktifitas pembelajaran membutuhkan waktu yang relatif lama serta dibutuhkan pembiasaan bagi siswa secara terus menerus.

Pembelajaran menggunakan problem based learning yang dilakukan penulis merupakan  pengalaman terbaik dalam rangka untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran dan hasil belajar PAI dan Budi Pekerti pada kelas IXB di SMP Kesatrian 1 Semarang. 

Kata kunci: Problem based learning, 

                   keaktifan, hasil belajar.


BAB I
PENDAHULUAN 

A.    Latar Belakang Best Practice

Belajar merupakan usaha sadar untuk mendapatkan berbagai macam pengalaman dalam kehidupan. Belajar bisa terjadi, jika terjadi interaksi komunikasi antar berbagai komponen pembelajaran. Komponen-komponen tersebut meliputi tujuan, materi, metode, strategi belajar mengajar dan komponen evaluasi. Istilah lain yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya, bahwa komponen sistem pembelajaran itu meliputi siswa, tujuan pembelajaran, kondisi (pengalaman belajar siswa), sumber-sumber belajar, dan hasil belajar. Dalam proses pembelajaran kegiatannya minimal dilakukan oleh guru dengan siswa. Tingkah laku guru disebut mengajar sedangkan perilaku siswa dinamakan belajar.

Berdasarkan pemgamatan penulis, Pembelajaran pendidikan agama islam dan budi pekerti berjalan dengan baik, namun keaktifan dan hasil belajar peserta didik masih perlu ditingkatkan.

Pendekatan deep learning hadir sebagai solusi terbaik untuk meningkatkan kualitas pembelajara sebagai mana yang telah disosialisasikan oleh pemerintah secara masif. Namun demikian, Penulis menilai bahwa pendekatan itu membutuhkan model pembelajaran yang efektif untuk keberhasilan pembelajaran, karena model pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam pembelajaran, guna menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, dalam rangka untuk menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif setidaknya ada lima jenis variabel yang menentukan keberhasilan belajar siswa, yakni (1) melibatkan siswa secara aktif, (2) menarik minat dan perhatian siswa, (3) membangkitkan motivasi siswa, (4) prinsip individualitas, serta (5) peragaan dalam pengajaran.

Menyikapi perihal di atas, diperlukan suatu pencarian dan pemilihan model pembelajaran yang tepat, efektif dan menyenangkan. Sehingga penulis memilih model pembelajaran problem based learning sebagai solusi untuk menjadikan pembelajaran semakin berkualitas. Disamping itu, sebagai strategi dalam melaksanakan pembelajaran mendalam. Oleh karena itu, pada makalah ini Penulis mengambil judul Implementasi Deep Learning pada pembelajaran PAI dengan menggunakan model pembelajaran based learning, guna meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik. Dengan adanya model pembelajaran ini, diharapkan hasil belajar peserta didik bisa meningkat dan bisa lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas karena semua siswa terlibat secara langsung.

B.     Manfaat dan Signifikansi Best Practice

Berpijak dari maksud dan tujuan penulisan Best Practice tersebut, maka berbagai manfaat penulisan best practice ini bisa diperoleh, di antaranya sebagai berikut.

1.      Manfaat Teoritis

a. Meningkatkan kualitas pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti,.

b. Memperbaiki layanan maupun hasil kerja dalam suatu lembaga atau sekolah.

c. Mengembangkan profesionalisme pendidik untuk meningkatkan kinerja pendidik.

d. Mendapatkan pengalaman mengajar terbaik (best practice) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik.

2.      Manfaat Praktis

a. Bagi Pendidik, sebagai bahan pertimbangan untuk pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di masa yang akan datang, khususnya pada aspek Ibadah tentang Akikah dan Qurban

b. Bagi Peserta Didik, dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan  peserta didik dalam pembelajaran.

c.  Bagi Sekolah, dapat menginspirasi teman sejawat untuk menggunaka model pembelajaran problem based learning, supaya hasil belajar dan keaktifan peserta didik meningkat.

d. Bagi Penulis, bermanfaat untuk menemukan praktik mengajar yang terbaik (Best Practice) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik.

Adapun signifikansi bahwa penulisan best practice ini harus dilakukan adalah agar penulis selaku pelaksana pendidikan di lapangan bisa mendapatkan pengalaman terbaik.

C.    Kerangka Berpikir

Adapun kerangka berfikir pada best practice ini adalah sebagai berikut:

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.  Deep Learning

Deep Learning dalam konteks pendidikan mengacu pada pembelajaran yang mendalam dan bermakna, di mana peserta didik tidak hanya menghafal informasi, tetapi benar-benar memahami, menginternalisasi, dan mampu menerapkan pengetahuan dalam berbagai konteks. Dalam kajian pendidikan, konsep ini sering dikaitkan dengan tiga aspek utama: Mindful Learning (Berkesadaran), Meaningful (Bermakna) Learning, dan Joyful Learning (Menyenangkan).(Khairul Anwar: 2024)

Deep learning dalam pendidikan merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman mendalam dan makna materi, bukan sekadar hafalan. Hal ini melibatkan pengintegrasian informasi, refleksi, dan penerapan pengetahuan dalam konteks yang relevan. Deep learning memfasilitasi siswa untuk memahami hubungan antar konsep, berpikir kritis, dan menciptakan pengetahuan baru. Hal ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang materi dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

B.  Problem based learning

Problem Based Learning yang selanjutnya disebut PBL, adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Dengan model pembelajaran ini, peserta didik dari sejak awal sudah dihadapkan kepada berbagai masalah kehidupan yang mungkin akan ditemuinya kelak pada saat mereka sudah lulus dari bangku sekolah. (Abudin Nata : 2009)  adapun cara pe nyajian bahan pelajarannya dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawaban oleh siswa”.

Menurut pendapat Arends, pada esensinya pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah :

“Model pembelajaran yang berlandaskan kontruktivisme dan mengakomodasikan keterlibatan siswa dalam belajar serta terlibat dalam pemecahan masalah yang kontekstual didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikan autentik yakni penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan yang nyata. (Warsono & Hariyanto:2013)

Model Problem Based Learning (PBL) adalah pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan. Boud dan Falleti (1997) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan. Margetson (1994) mengemukakan bahwa kurikulum PBM membantu untuk meningkatkan perkembangan ketrampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuk, reflektif, kritis dan belajar aktif.(Rusman: 2011)

Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah seperangkat model mengajar yang menggunakan masalah sebagai fokus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, materi, dan pengaturan diri. Model Problem Based Learning (PBL) bukan saja dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, tetapi juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir ilmiah, berpikir berdasarkan prinsip ilmu pengetahuan yang objektif, metodologis, sistematis dan universal. Pembelajaran berbasis masalah memiliki tiga karakteristik, yakni: (1) pelajaran berfokus pada memecahkan masalah, (2) tanggung jawab untuk memecahkan masalah bertumpu pada siswa, dan (3) pengajar mendukung proses saat peserta ajar mengerjakan masalah.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang bias mendorong siswa untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung, dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Melalui PBL, seorang siswa akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah yang selanjutnya dapat ia terapkan pada saat ini menghadapi masalah yang sesungguhnya di masyarakat.

1.    Karakteristik Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) memiliki karakteristik tersendiri dalam hal konsepnya maupun penerapannya di dalam kelas. Adapun karakteristik Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:

a)    Permasalahan menjadi starting point dalam belajar.

b)   Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur.

c)   Permasalahan membutuhkan perspektif ganda.

d) Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki siswa, sikap dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar.

e)  Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama.

f) Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam PBL.

g)  Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif.

h) Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan.

i) Keterbukaan proses dalam PBL meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar.

j) PBL melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.(Rusman:2011)      

Berdasarkan karakteristik di atas, tampak jelas bahwa dalam Problem Based Learning (PBL) pada proses pembelajaran, dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuanya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa banyak melakukan kegiatan yang merangsang aktivitas untuk berfikir secara ilmiah dalam menyelesaikan suatu masalah, serta dari karakteristik Problem Based Learning (PBL) kita dapat mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran di kelas yang berorientasi pada Problem Based Learning (PBL).

2.    Langkah-langkah Problem Based Learning (PBL)

Penerapan Problem Based Learning (PBL) dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Ibrahim dan  Nur  dan  Ismail mengemukakan bahwa langkah-langkah Problem Base Learning (PBL) adalah sebagai berikut:

3.    Kelebihan dan Kekurangan Problem Based Learning (PBL)

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya di kelas.Kelebihan dari penerapan model Problem based learning ini antara lain:

a)  Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah

b)  Meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa (Critical Thinking)

c)  Meningkatkan keaktifan siswa

d Memupuk solidaritas sosial dengan terbiasa berdiskusi dengan teman teman sekelompok kemudian berdiskusi dengan teman- teman sekelompok kemudian berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya.

e) Semakin mengakrabkan guru dengan siswa melalui proses pembelajaran yang dirancang secra sistematis.

f) Karena ada kemungkinan suatu masalah harus diselesaikan siswa melalui eksperimen, hal ini juga akan membiasakan siswa dalam melakukan suatu percobaan atau eksperimen dalam pembelajaran.(Warsono & Hariyanto: 2013)

 

Sementara itu kekurangan dari penerapan model problem based learning antara lain :

1)Tidak banyak guru yang mampu mengantarkan siswa kepada pemecahan masalah.

2) memerlukan biaya mahal dan waktu yang panjang.

3) Aktivitas siswa yang dilaksanakan di luar sekolah sulit dipantau guru.

B.       Keaktifan Peserta Didik dalam Belajar

Proses pembelajaran sangat memerlukan keaktifan siswa, tanpa adanya keaktifan siswa maka pembelajaran terkesan membosankan. Keaktifan siswa sebagai unsur terpenting dalam pembelajaran, karena keaktifan akan berpengaruh besar pada keberhasilan proses pembelajaran. Semakin tinggi keaktifan siswa, maka keberhasilan proses belajarpun harus semakin tinggi. Menurut Sardiman (2011: 100) keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Djoko Santoso dkk (2007: 274) menjelaskan bahwa pembelajaran yang berkualitas adalah terlibatnya peserta didik secara aktif dalam pebelajaran. Keterlibatan yang dimaksud adalah: aktivitas mendengarkan, komitmen terhadap tugas, mendorong berpartisipasi, menghargai kontribusi/pendapat, menerima tanggungjawab, bertanya kepada pengajar atau teman dan merespon pertanyaan. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 90) keaktifan siswa dapat didorong oleh peran guru. Guru akan berusaha memberi kesempatan pada siswa untuk berperan aktif, baik mencari, memproses dan mengelola perolehan belajarnya. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa keaktifan adalah kegiatan berbuat dan berfikir yang meliputi fisik maupun mental sebagai suatu rangkaian yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

C.  Hasil Belajar Peserta Didik

Belajar memiliki pengertian memeroleh pengetahuan atau menguasi pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Belajar adalah proses transformasi ilmu guna memperoleh kompetensi, keterampilan dan sikap untuk membawa perubahan yang lebih baik. Menurut Hergenhahn dan Olson dalam Heri Rahyubi (2012: 3), belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau protensi perilaku yang merupakan hasil dari pengalaman dan tidak dicirikan oleh kondisi diri yang sifatnya sementara seperti yang disebabkan oleh sakit, kelelahan, atau obat-obatan. Jelas bahwa belajar merupakan proses internalisasi nilai, pengetahuan, dan pengalaman yang kemudian menyatu dengan diri seseorang. Dari proses internalisasi nilai, pengetahuan, dan pengalaman ini seseorang lantas mampu menjalani kehidupan secara lebih baik dan berkualitas.


BAB III
IMPLEMENTASI DEEP LEARNING PADA PEMBELAJARAN PAI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

A. Pelaksanaan Deep Learning dengan model Problem Based Learning

Pembelajaran diawali dengan salam, menyapa dan memotivasi peserta didik, guru menyampaikan tema/materi pokok, tujuan pembelajaran, manfaat mempelajari materi, dan rencana penilaian yang akan digunakan. selanjutnya peserta didik juga diminta untuk membaca ayat al Qur’an terlebih dahulu.

Pelaksanaan Deep Learning dengan model pembelajaran problem based learning (PBL) yaitu sebagai mana pada rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut: 







B. Keaktifan dan Hasil Belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti

Keaktifan peserta dikdik sangat penting dalam proses pembelajaran, untuk meningkatkannya maka diperlukan usaha untuk mencarai media pembelajaran yang tepat dan menarik bagi mereka. 

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ditemukan banyak metode dan model pembelajaran, namun dari hasil pengalaman penulis model pembelajaran Problem based Learning sangat efektif untuk meningkatkan keaktifan peserta didik.

 Berdasarkan pengalaman penulis, proses pembelajaran untuk mata pelajaran PAI dan Budi pekerti materi menyayangi binatang dengan syariat penyembelihan, Penulis sampaikan dengan menggunakan PPT, video pembelajaran dan LKPD. Adapun Hasilnya dari penggunaan multimedia interaktif Edpuzzle adalah keaktifan dan hasil belajar siswa bisa meningkat signifikan.

BAB IV
PENUTUP 

A.  Kesimpulan

Pembelajaran PAI dan BP dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning terbukti bisa meningkatkan keaktifan peserta didik, karena dengan aplikasi tersebut rasa ingin tahu murid akan meningkat, sehingga peserta didik bisa terdorong dan tertantang untuk memecahkan masalah yang dihadapai. Disamping itu, Implementasi Deep Learning PAI dan BP dengan menggunakan model pembelajaran Problem based learning lebih cepat memahamkan siswa terkait dengan materi yang sedang dipelajari sehingga model ini bisa meningkatkan hasil belajar PAI dan BP.

B.  Saran

Hendaknya guru mencoba mengimplementasikan Deep Learning menggunakan model pembelajaran Problem based learning sebagai salah satu cara untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata.2009 Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Prenada

Media Group,.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi . Jakarta: Rineka Cipta.

Anwar Khairul, 2004, Modul pedagogik Deep Learning, Kemenag.RI

Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran:Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers,

Saminanto, Ed. Ismail SM. 2010. Ayo Praktik PTK: Penelitian Tindakan Kelas, Semarang: Rasail Media Group.

Sardiman A.M. 2011,Interaksi dan motivasi belajar mengajar:Jakarta: Rajawali Pers

Warsono Dan Hariyanto. 2013. Pembelajaran Aktif: Teori Dan Asasmen. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter (Konsepsi  Dan Aplikasinya Dalam

Lembaga Pendidikan). Jakarta: Kencana media group.





DOKUMENTASI.










Komentar

Postingan Populer

PENGUNJUNG

Flag Counter

KALENDER

Calendar Widget by CalendarLabs